This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 07 April 2017

Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran


Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.
Perspektif tentang Motivasi
  • Perspektif Behavioral: menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah kejadian atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid, insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat.
  • Perspektif Humanistis: menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Menurut hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individu harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut: fisiologis, keamanan, cinta dan rasa memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri.
  • Perspektif Kognitif: berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka(persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, terutama persepsi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif. Perspektif behavioris memandang motivasi muris sebagai konsekuensi dari insentif eksternal, sedangkan perpektif kognitif berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan.
  • Perspektif Sosial: Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.
MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU
Motivasi ekstrinsik dan instrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain(cara untuk mencapai tujuan).
Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).

Determinasi Diri dan Pilihan Personal: dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal.

Pengalaman Optimal: terjadi ketika orang  merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan sesuatu aktivitas. Pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu mudah.

Imbalan Ekstrinsik dan Motivasi Instrinsik. Dua kegunaannya adalah:
a.       Sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, dimana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid.
b.      Mengandung informasi tentang penguasaan keahlian.
Imbalan yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid disebabkan oleh imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri murid untuk menjadi pandai.

Pergeseran Development dalam Motivasi ekstrinsik dan instrinsik
Para periset menemukan bahwa saat murid berpindah dari SD ke SMP dan SMA, motivasi intrinsik mereka terus menurun, terutama selama SMP. Konsep kesesuaian lingkungan-person menimbulkan perhatian pada kurangnya kesesuaian antara minat remaja pada kemandirian dan kontrol sekolah yang makin ketat, yang menyebabkan evaluasi dan sikap negatif terhadap sekolah.

Proses Kognitif Lainnya

  • Atribusi. Teori atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Weiner mengidentifikasi tiga dimensi atribusi kausal:

a.       lokus, apakah sebab itu bersifat eksternal atau internal bagi si aktor
b.      kemampuan, sejauh mana sebab-sebab itu tetap tak bisa diubah atau dapat diubah
c.       daya kontrol, sejauh mana individu dapat mengontrol sebab tersebut.
  • Motivasi untuk menguasai. Ada tiga tipe orientasi prestasi:

a.       Orientasi untuk menguasai
b.      Orientasi tak berdaya
c.       Orientasi kinerja
  •     Self-efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan memproduksi hasil positif.
  •      Penentuan Tujuan, Perencanaan, dan Monitoring Diri. Menentukan tujuan yang spesifik, jangka pendek dan menantang akan bermanfaat bagi kecakapan diri dan prestasi murid. Dweck dan Nicholls mendefinisikan tujuan dari segi fokus yang berhubungan dengan prestasi langsung dan definisi sukses. Meskipun perencana yang baik berarti mampu mengelola waktu secara efektif, menentukan prioritas, dan mampu menata. Monitoring diri adalah aspek utama dari pembelajaran dan prestasi

Kecemasan dan prestasi
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan.

MOTIVASI, HUBUNGAN DAN KONTEKS SOSIOKULTURAL
  1.     Motif Sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dikenal melalui pengalaman dengan dunia sosial.
  2.    Hubungan Sosial adalah hubungan murid dengan orangtua, teman sebaya, kawan, guru dan mentor dan orang lain, dapat memengaruhi prestasi dan motivasi sosial mereka.

a.       Karakteristik demografis
b.      Praktik pengasuhan anak
c.       Provisi pengalaman spesifik dirumah

     3.Konteks sosiokultur. Status sosioekonomi dan etnisitas, penting untuk mengenali diversitas        prestasi yang ada didalam setiap kelompok kultural, membedakan antara perbedaan dan defenisi (kekurangan).


MURID BERPRESTASI RENDAH DAN SULIT DIDEKATI
  •     Murid yang tidak bersemangat

a.       Murid berprestasi rendah dengan ekspetasi kesuksesan yang rendah
b.      Murid dengan sindrom kegagalan
c.       Murid yang termotivasi untuk melindungi harga diri dengan menghindari kegagalan.
  •     Murid yang tidak tertarik atau terasing



Senin, 03 April 2017

Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial


Pembelajaran (learning) adalah pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.

Behaviorisme adalah pandangan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diobservasi.

Proses mental adalah pikiran, perasaan, dan motif yang tak dapat diobservasi oleh orang lain.

Kognitif
  1.  Pendekatan kognitif sosial menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang(kognitif) saling berinteraksi memengaruhi proses pembelajaran.
  2. Pemrosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya.
  3. Konstruktivis kognitif, menekankan konstruksi kognitif terhadap pengentahuan dan pemahaman.
  4. Konstruktivis sosial, focus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.

PENDEKATAN BEHAVIORAL UNTUK PEMBELAJARAN
Pengkodisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organism belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Teori pengkodisian klasik Pavlov memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respons: unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus(CS), conditioned response(CR).

Generalisasi, Diskriminasi, dan Pelenyapan
Generalisasi dalam pengkodisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan conditioned stimulus yang asli untuk menghasilkan response yang sama.

Diskriminasi dalam pengkodisian klasik terjadi ketika organism merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespons stimuli lainnya.

Pelenyapan (extinction) dalam pengkodisian klasik adalah pelemahan conditioned response (CR) karena tidak adanya unconditioned stimulus (US)

Desensitisasi Sistematis adalah metode yang didasarkan pada pengkodisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat invidudu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan.

Pengkodisian Operan
Pengkodisian Operan juga dinamakan”pengkodisian instrumental” adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.

Hukum efek adalah prinsip bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.

Penguatan(imbalan) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas suatu perilaku yang akan terjadi.

Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Penguatan positif adalah frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).

Contoh : Memuji orangtua yang mau hadir dalam rapat orangtua-guru mungkin akan mendorong mereka untuk kelak ikut rapat lagi.

Penguatan negative adalah frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan)

Contoh : Jika Anda sakit kepala , minum aspirin, dan sakit kepala lenyap. Minum aspirin adalah akan diperkuat jika tindakan ini mengurangi rasa sakit kepala.

ANALISIS PERILAKU TERAPAN DALAM PENDIDIKAN
Analisis perilaku terapan adalah penarapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia.

Meningkatkan Perilaku yang Diharapkan
  •          Memilih penguat yang efektif
  •          Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
  •          Menggunakan perjanjian
  •          Menggunakan prompt dan shaping

Mengurangi Perilaku yang Diharapkan
  •          Menggunakan penguatan diferensial
  •          Menghentikan penguatan (pelenyapan)
  •          Menghilangkan stimuli yang diinginkan
  •          Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)

PENDEKATAN KOGNITIF SOSIAL UNTUK PEMBELAJARAN
Teori Kognitif Sosial Bandura adalah teori Bandura yang menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran.

Self-efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif.

Pembelajaran Observasional
Pembelajaran Observasional juga dinamakan imitasi atau modeling adalah pembelajaran yang dialakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
  •          Studi boneka bobo klasik
  •          Model pembelajaran observasional kontemporer Bandura:
1.      Atensi (perhatian)
2.      Retensi
3.      Produksi
4.      Motivasi

Pendekatan Perilaku Kognitif dan Regulasi Diri
Pendekatan perilaku kognitif adalah mengubah perilaku dengan menyuruh orang untuk memonitor, mengelola, dan mengatur perilaku mereka sendiri, bukan dipengaruhi melalui faktor eksternal.

Pembelajaran Regulasi Diri adalah memunculkan dan memonitor sendiri pikiran, perasaan dan perilaku untuk mencapai suatu tujuan.
Karakteristik dari pelajar regulasi diri:
  •          Bertujuan memperluas pengetahuan dan menjaga motivasi.
  •          Menyadari keadaan emosi mereka dan punya strategi untuk mengelola emosinya.
  •          Secara periodic memonitor kemajuan kea rah tujuannya.
  •          Menyesuaikan atau memperbaiki strategi berdasarkan kemajuan yang mereka buat.
  •          Mengavaluasi halangan yang mungkin muncul dan melakukan adaptasi yang diperlukan.







Minggu, 02 April 2017

Pendidikan Multikultural


Pendidikan Multikultural adalah pendidikan yang menghargai diversitas dan mewadahi perspektif dari beragam kelompok kultural atas dasar basis regular.
Tujuannya adalah pemerataan kesempatan bagi semua murid.

Memberdayakan Murid
Pemberdayaan (empowerment) berarti memberi orang kemampuan intelektual dan keterampilan memecahkan masalah agar berhasil dan menciptakan dunia yang lebih adil.

Pengajaran yang Relevan Secara Kultural
Pengajaran yang relevan secara kultural adalah aspek penting dari pendidikan multikultural. Pakar pendidikan multikultural percaya bahwa guru yang baik akan mengetahui dan mengintegrasikan pengajaran menjadi lebih efektif.

Pendidikan yang Berpusat pada Isu
Pendidikan yang Berpusat pada Isu Merupakan aspek penting dari pendidikan multikultural. Dalam pendekatan ini murid diajari secara sistematis untuk mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial.

Meningkatkan Hubungan di Antara Anak dari Kelompok Etnis yang Berbeda-beda
  • Kelas Jigsaw: kelas dimana murid dari berbagai latar belakang kultural yang berbeda diminta bekerja sama untuk mengerjakan beberapa bagian yang berbeda dari suatu tugas untuk meraih tujuan yang sama.
  • Kontak personal dengan orang lain dari latar belakang kultural yang berbeda: hubungan meningkat ketika murid saling berbicara satu sama lain tentang kecemasan mereka, kesuksesan mereka, kegagalaan mereka, strategi mereka untuk mengatasi masalah, minat mereka dan sebagainya.
  • Pengambilan perspektif: latihan dan aktivitas yang membantu murid melihat perpektif orang lain dapat mengingkatkan relasi antar-etnis.
  • Pemikiran kritis dan inteligensi emosional: murid yang belajar berpikir secara mendalam dan kritis tentang relasi antar-etnis kemungkinan akan berkurang prasangkanya dan tak lagi menstereotipkan orang lain. Inteligensi emosional bermanfaat bagi hubungan antar-etnis.
  • Mengurangi bias: Louise Derman-Sparks dan Anti-Bias Curriculum Task Force (1989) menciptakan sejumlah alat untuk membantu anak mengurangi, menglola atau bahkan mengeliminasi bias. Strategi antibias yang direkomendasikan untuk guru:

a. Ciptakan lingkungan kelas antibias dengan memasang gambar anak dari berbagai latar belakang etnis dan kultura.
b. Pilih materi drama, seni, dan aktivitas kelas yang memperkaya pemahaman etnis dan kultural.
c. Gunakan boneka “persona” untuk anak kecil. Enam belas boneka mewakili latar belakang kultur dan etnis yang berbeda-beda
d. Bantu murid menolak stereotip dan diskriminasi
e. Ikutlah dalam aktivitas peningkatan kesadaran untuk memahami pandangan cultural Anda sendiri secara lebih baik dan untuk menangani stereotip atay bias yang mungin Anda miliki.
f. Bangun dialog guru/orang tua yang membuka diskusi tentang masing-masing pandangan; lakukan tukar-menukar informasi tentang bagaimana anak mengembangkan prasangka; dan beri tahu orang tua tentang kurikulum antibias.
  • Meningkatkan toleransi: Teaching Tolerance Project menyediakan sumber daya dan materi kepada sekolah untuk meningkatkan pemahaman antarkultur dan hubungan antar anak kulit putih dengan kulit bewarna.
  • Sekolah dan komunitas sebagai satu tim: psikiater dari Yale, James Comer percaya bahwa tim komunitas merupakan cara terbaik untuk mendidik anak. Ada 3 aspek penting dari Comer Project yaitu:

a. Pemerintah dan tim manajemen yang mengembangkan rencana sekolah yang komprehensif, penilaian strategi, dan program pengembangan staf.
b.      Tim pendukung sekolah dan kesehatan mental
c.       Program orang tua.

   Program Comer menekankan pendekatan no-fault(focus pada pemecahan masalah, bukan saling menyalahkan), tidak ada keputusan kecuali melalui konsensus dan tidak ada “paralysis”( tak ada suara tidak setuju yang bisa menghadang keputusan mayoritas. Comer percaya bahwa seluruh komunitas sekolah harus kooperatif, bukan bersikap bermusuhan.





Perkembangan Kognitif dan Bahasa


Proses dan Periode
1.      Proses Biologis, Kognitif, dan Sosioemosional
Proses biologis adalah perubahan dalam tubuh anak.Melandasi perkembangan otak, berat dan tinggi badan, perubahan dalam kemampuan bergerak, dan perubahan hormonal di masa puber.
Proses kognitif adalah perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa anak.
Proses Sosioemosional adalah perubahan dalam hubungan anak dengan orang lain, perubahan dalam emosi, dan perubahan dalam kepribadian.

2.      Periode perkembangan
Periode perkembangan meliputi:
a.       Infancy adalah periode dari kelahiran sampai usia dua puluh empat bulan. Masa ketika anak sangat tergantung kepada orangtuanya.
b.      Early childhood(usia”prasekolah”) adalah periode dari akhir masa bayi sampai umur lima atau enam tahun. Periode ini, anak menjadi semakin mandiri, siap untuk bersekolah (seperti mulai belajar untuk mengikuti perintah dan mengidentifikasi huruf), dan banyak menghabiskan waktu bersama teman.
c.       Middle dan late childhood (masa sekolah dasar) dimulai dari usia enam sampai sebelas tahun. Anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, dan menghitung.
d.      Adolescense (remaja) adalah transisi dari masa anak-anak ke usia dewasa. Periode ini dimulai sekitar usia sepuluh atau dua belas tahun sampai ke usia delapan belas atau dua puluh tahun. Di masa ini individu mencari jati diri.
e.       Early adulthood dimulai dari akhir usia remaja atau awal usia 20-an sampai ke usia 30-an. Individu sudah mulai menentukan pekerjaan dan mencari pasangan hidup.
Perkembangan Kognitif
Otak
Daerah dan sel otak, jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah setidaknya sampai usia remaja. Myelination dalam daerah otak yang berhubungan dengan koordinasi mata-tangan belum lengkap sampai usia empat tahun. Synapse adalah gap(jarak) tipis antar neuron tempat terbentuknya koneksi antar neuron.

Lateralisasi (lateralization) spesialisasi fungsi dalam satu bagian otak atau satu bagian lainnya. Spesialisasi fungsi otak:
A. Pemrosesan verbal. Riset paling ekstensif terhadap dua belahan otak adalah pada aspek bahasa.
b    B. Pemrosesan nonverbal. Belahan kanan biasanya lebih dominan dalam pemrosesan informasi nonverbal, seperti persepsi ruang(spasial), pengenalan visual, dan emosi.

Otak dan pendidikan anak. Ilmu saraf dan pendidikan otak menyatakan bahwa ada periode kritis atau periode sensitive semacam jendela biologis, ketika pembelajaran menjadi mudah, efektif, dan gampang dicapai. Ahli ilmu saraf menyatakan bahwa anak-anak mendapat banyak informasi pada usia 10 tahun.

Teori Piaget
Proses kognitif. Dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak-anak menggunakan skema. Skema adalah sebuah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran seseorang yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi.
Ada dua cara  proses untuk anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka:
a.      Asimilasi Suatu proses mental yang terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada.
b.      Akomodasi Suatu proses mental yang terjadi ketika anak menyesuaikan diri dengan informasi baru.
Piaget juga mengatakan untuk memahami dunianya, anak-anak secara kognitif mengorganisasikan pengalaman mereka. Organisasi Konsep Piaget tentang pengelompokan perilaku yang terpisah ke dalam sistem kognitif yang lebih tertib lancar; pengelompokan atau penataan perilaku ke dalam kategori-kategori. Penggunaan organisasi meningkatkan kemampuan memori jangka panjang.
Ekuilibrium Suatu mekanisme yang dikemukakan Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak bergerak dari satu tahap pemikiran ke tahap selanjutnya. Pergeseran ini terjadi saat anak mengalami konflik kognitif atau disekuilibrium dalam usahanya untuk memahami dunianya. Pada akhirnya, anak memecahkan konflik itu dan mendapatkan keseimbangan pemikiran.

Tahap-tahap piagetian
1    1. Tahap Sensorimotor: Bayi membangun pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan      pengalaman indra dengan gerakan motor (dari kelahiran sampai usia 2 tahun).
2    2. Tahap Pra-operasional: Pemikiran simbolis meningkat tetapi pemikiran operasional belum ada (usia 2 sampai 7 tahun).
3    3. Tahap operasional Konkret: Anak kini bisa bernalar secara logis tentang kejadian-kejadian konkret dan mampu mengklasifikasi objek ke dalam kelompok yang berbeda-beda (usia 7 tahun sampai 11 tahun).
4    4. Tahap operasional Formal: Remaja berpikir secara lebih abstrak, idealitas, dan logis (usia 11 tahun sampai dewasa).

Teori Vygotsky
Asumsi Vygotsky:
1    A. Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental.
2    B.  Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental.
3    C.  Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.

Zone of Proximal Development (ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dari orang dewasa atau anak yang lebih mampu.

Scaffolding adalah sebuah teknik untuk mengubah level dukungan.

Bahasa dan Pemikiran. Vygotsky percaya bahwa anak-anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk merencakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri.

Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah bentuk komunikasi, lisan, tertulis atau tanda, yang disarkan pada system symbol.

Fonologi adalah system suara bahasa.

Morfologi adalah aturan untuk mengombinasikan morfem, yang merupakan serangkaian suara yang bermakna yang merupakan kesatuan bahasa terkecil.

Sintaksis adalah cara kata harus dikombinasikan untuk membentuk frasa dan kalimat yang dapat diterima.

Semantik adalah makna kata dan kalimat.

Pragmatis adalah penggunaan percakapan yang tepat.

Pengaruh Biologis dan Lingkungan
Ahli bahasa terkenal Noam Chomsky (1957) mengatakan bahwa manusia cenderung mempelajari bahasa pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Dalam basis biologisnya dari bahasa adalah anak-anak diseluruh dunia mencapai titik penting dalam berbahasa pada saat yang hampir bersamaan dalam perkembangan mereka.
Bagaimana Bahasa Berkembang
Ketika anak mulai melampui tahap pengucapan dua kata, mereka menujukkan pengetahuan tentang aturan morfologi.Anak mulai menggunakan bentuk jamak dan positif dari kata benda(seperti kucing).







Sabtu, 04 Maret 2017

Perencanaan,Instruksi, dan Teknologi

KELOMPOK 1
Ketua Kelompok : Saras Gusvita           (16-173)
Anggota             : Alde Rahman Ifari     (16-166)
                           Eunike Siagian          (16-169)
                           Nabila Yasmin Fahira (16-180)
                           Alifah Nabilah Dara    (16-182)
                           Dhita Dwi Endayu      (16-188)
                           Doly Indra Aulia        (16-233)    

Kamis, 02 Maret 2017

Psikologi Pendidikan

HASIL DISKUSI KELOMPOK
MATERI PSIKOLOGI PENDIDIKAN dan FENOMENA PENDIDIKAN


Kelompok 1
Alde Rahman Ifari (16-166)
Eunike Aprillia Siagian (16-169)
Saras Gusvita (16-173)
Nabila Yasmin (16-180)
Alifah Nabilah Dara (16-182)
Dhita Dwi Endayu (16-188)
Doli Indra Aulia (16-233)
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Kelas : C-2016
Blog : Nabila Yasmin  (16-180)


Hasil Diskusi Kelompok 

Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami mengenai kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah psikologi pendidikan 2 sks yang harus memilki e-mail dan blog ditinjau dari uraian psikologi pendidikan dan fenomena pendidikan di Indonesia adalah :
Dari segi uraian mengenai psikologi pendidikan kami berpendapat bahwa dimana pengertian psikologi pendidikan adalah bidang yang membantu pengajar/proses pembelajaran serta memberi kontribusi untuk menghantar anak-anak meraih masa depan yang baik. Dari pengertian tersebut, kami berpendapat adanya kaitan dengan memiliki e-mail dan blog sangat berguna karena dari segi pendidikan adanya alat elektronik tersebut mahasiswa terkhusunya kami bisa mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang secara pesat. Dengan memiliki e-mail dan blog, kami para mahasiswa akan dituntut untuk mengembangkan kreativitas dalam menulis, serta menyampaikan informasi dengan teknologi, sehingga kami bisa lebih maju dan memiliki wawasan yang luas terhadap informasi yang kami berikan. 
Selain itu, kewajiban kami dalam memiliki e-mail dan blog adalah kami menjadi tahu bagaimana cara membuat, menggunakan ataupun mengirim informasi kepada orang lain. Yang semulanya para mahasiswa tidak bisa membuat bahkan tidak memiliki blog, kini sekarang kewajiban itu sudah dilakukan oleh mahasiswa yang termasuk dalam materi perkuliahan kami disemester awal. Manfaat lain dari memiliki e-mail ataupun blog, mahasiswa menjadi lebih praktis dan mudah dalam berkomunikasi dengan dosen dan mahasiswa lainnya, seperti saat dosen memberikan tugas dalam bentuk ketikan ataupun softcopy, dengan memiliki e-mail mahasiswa dengan mudah mengirim tugas tersebut melalui e-mail dosen tanpa harus bertatap muka ataupun tugas tersebut tidak harus lagi ditulis dalam selembar kertas. 
Seiring dengan berkembangnya pendidikan, fenomena ataupun berbagai permasalahan dalam pendidikan selalu muncul dan berusaha meminimalisir mengenai permasalahan tersebut. Seperti mengenai kurikulum ataupun program pendidikan di Indonesia yang menurut kami belum maksimal. Belum tersebarnya pengarahan dan pendidikan mengenai teknologi di berbagai daerah membuat para pelajar di Indonesia masih belum bisa menggunakan teknologi dan membuat atau mendapatkan informasi dengan baik. Program pembelajaran yang belum maksimal inilah yang menghambat mahasiswa dan guru ataupun dosen dalam melakukan komunikasi pembelajaran. Tidak semua materi ataupun tugas terkadang bisa disampaikan langsung oleh dosen ataupun guru kepada siswanya. Apalagi di era globalisasi sekarang, sangat dibutuhkan memiliki e-mail dan blog dalam membantu siswa mendapatkan informasi dari beberapa blog penting yang diinginkan. 
Beberapa dampak positif dan negatif dari hasil diskusi kelompok kami berdasarkan perkembangan mahasiswa dan masyrakat umum yang memiliki e-mail dan blog, diantaranya.
Dampak Positif 
1. Dengan adanya e-mail dan blog, kita menjadi tahu apa fungsi keduanya, bagaimana cara mengoperasikan aplikasi tersebut serta manfaat memiliki keduanya.
2. Memiliki blog kita bisa memberikan informasi yang berguna untuk menjadi sumber baca bagi yang melihat.
3. Memiliki blog kita juga bisa mengikuti berbagai blog orang lain dengan menjadi bagian link favorit yang terdapat berbagai sumber penting sehingga kita bisa memilki teman yang banyak. 
4. Adanya memiliki e-mail, memudahkan kita dalam mengirimkan pesan dengan cepat dan dapat dikirim kemana saja. 
5. Memiliki e-mail bisa mengurangi biaya dalam pengiriman data apapun dapat dikirim ke dalam maupun luar negeri. 
6. Memiliki blog dapat menumbuhkan ide-ide kreatif pada tampilan blog, isi ataupun tulisan dalam blog. 
Adapun dampak negatif.
1. Beberapa orang yang memiliki blog terkadang tidak valid atau sumber yang jelas mengenai informasi yang diberikan.
2. Munculnya iklan-iklan ataupun gambar yang tidak sepantasnya yang dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab dengan menampilkan pada blognya ataupun adanya memunculkan tampilan atau informasii yang mengandung penipuan, sepert bisnis online.  
3. Terlalu sibuk dalam teknologi yang ia gunakan seperti sibuk dalam blog nya seseorang bisa lupa waktu ataupun menjaga kesehatannya.